Arsip | HEALTH RSS for this section

Ini Trik Agar Otak Tak ‘Direbus’ Ponsel

141934_bahayaponsel

Sudah banyak penelitian yang berupaya membuktikan dampak negatif penggunaan ponsel dalam waktu lama namun tak banyak yang benar-benar menemukan bukti nyatanya. Tapi baru-baru ini sebuah studi baru mengungkapkan bahwa radiasi ponsel akan ‘merebus’ otak penggunanya secara perlahan-lahan.

“Dengan menggunakan teknik untuk mengukur radiasi elektromagnetik terbaru, tim peneliti menemukan bahwa medan radiofrekuensi yang dihasilkan dari ponsel dapat menyebabkan jaringan otak memanas. Hal ini membuktikan bahwa otak menyerap radiasi dari sel-sel itu,” ungkap peneliti David Gultekin, Ph.D. dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York.

Sayangnya Gultekin dan rekan-rekannya tak dapat mengungkapkan seberapa paparan radiasi ponsel yang dianggap aman. Namun WHO telah mengklasifikasikan radiofrekuensi sebagai salah satu jenis karsinogenik, artinya paparan radiofrekuensi bisa menimbulkan risiko kanker otak yang signifikan.

Meski begitu studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini tentu tak mampu menghentikan kebiasaan orang untuk menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi utama, hanya saja dampak paparannya bisa dikurangi dengan 5 cara yang dilansir menshealth, Kamis (20/12/2012) berikut ini.

1. Jaga jarak dengan ponsel
Jika Anda sempat mengecek buku manual ponsel yang baru saja dibeli maka Anda akan lihat produsen seperti Apple dan Motorola merekomendasikan agar Anda tak terlalu dekat dengan ponsel, minimal sejauh 10 milimeter atau sepanjang satu batang pensil dari tubuh manusia sepanjang waktu. “Bisa juga dengan menggunakan perangkat hands-free,” saran Devra Lee Davis, Ph.D., pendiri Environmental Health Trust.

2. Waspadai sinyal lemah
“Ponsel memancarkan lebih banyak radiasi radiofrekuensi ketika tengah mencari sinyal. Itu berarti daerah pedalaman/pedesaan atau lokasi manapun dimana sinyal ponsel lemah dan Anda kesulitan untuk menelpon,” terang Davis.

3. Letakkan keypad menghadap ke tubuh
Jika Anda terpaksa harus menaruh ponsel di kantung celana, pastikan posisi ponsel yang ada keypad-nyalah yang menghadap ke tubuh Anda. Sebab medan elektromagnetik dari ponsel memancar lewat bagian belakang ponsel. “Jika tidak, dikhawatirkan akan semakin besar radiasi berbahaya yang diarahkan ke paha atau bagian tubuh sensitif lainnya,” tutur Davis.

4. Jangan ditempelkan di satu telinga saja
Davis menyarankan agar pengguna ponsel sering-sering mengubah posisi tangan dan telinga ketika berbicara lewat ponsel untuk membatasi jumlah paparan radiasi pada salah satu sisi kepala.

5. Buat panggilan dengan menyalakan speaker
Radiasi radiofrekuensi terkuat ditemukan ketika ponsel tengah berupaya melakukan panggilan jadi saat itu Anda lakukan, jauhkan ponsel dari kepala Anda hingga Anda mendengar seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya, kata Davis.

Iklan

Makanan Penyulut Sakit Kepala

ghj

Sakit kepala yang menjengkelkan bisa dipicu oleh makanan yang dikonsumsi.
Sayangnya, banyak yang tahu jenis makanan yang seperti apa bisa menyebabkan sakit kepala maupun migrain.
Simak penjelasannya berikut ini.

Minuman alkohol. Sulfida yang digunakan sebagai pengawet dalam red wine menjadi salah satu penyebab migrain. Selain itu, minuman beralkohol menyebabkan peningkatan aliran darah ke otak dan juga memicu terjadinya dehidrasi. Keduanya menjadi penyebab sakit kepala.

Kopi. Jika Anda tidur kemudian bangun dengan sakit kepala, mungkin tubuh Anda memiliki kafein berlebihan. Meminum kopi diperbolehkan asalkan dalam jumlah wajar.

Keju. Keju mengandung enzim yang disebut tyramine, asam amino yang memicu tekanan darah tinggi dan menyebabkan sakit kepala. Tyramine terbentuk dari proses fregmentasi. Semakin lama masa fregmentasi, maka semakin banyak kandungan tyramine-nya.

Es krim. Sakit kepala juga bisa timbul karena makanan dingin. Hal ini dipicu oleh perubahan mendadak pada aliran darah di otak karena suhu dingin mematikan saraf tertentu yang berfungsi mengontrol berapa banyak darah mengalir ke kepala.

Coklat. Penelitian yang dipresentasikan dalam International Headache Society mengungkapkan kakao dapat menyebabkan migrain. Kandungan Phenylethylamine dan theobromine dalam coklat menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga rasa sakit di kepala bisa muncul sesaat setelah Anda mengonsumsinya.

Pisang. Pisang juga memiliki tyramine dalam lapisan serat terluar kulitnya. Jadi, usahakan membuka kulit pisang hingga serat-serat kulitnya tidak menempel di buahnya.

MSG. Senyawa kimia dalam makanan, seperti nitrat, MSG, pewarna, memanis dan zat adiktif lainnya patut dihindari. Semuanya berpotensi menimbulkan rasa nyeri di kepala Anda bahkan diare. Selain itu, kurangi makanan yang diawetkan atau diasinkan, seperti buah-buahan kering, sup kalengan, hingga selai.

Sarin, Sang Senjata Mematikan Perusak Saraf

Timur tengah masih diguncang prahara yang entah sampai kapan akan berakhir. Dari konflik di Palestina, peperangan menyebar ke Irak dan Suriah. Baru-baru ini, pemerintahan diktator di Suriah bahkan membuat senjata kimia mematikan yang dikenal dengan sebutan Sarin.

Sarin merupakan zat yang amat cepat meracuni saraf. Awalnya zat ini dibuat di Jerman pada tahun 1938 untuk pestisida. Namun menurut Centers for Disease Control and Pervention (CDC) di AS, sarin lebih mematikan dari pestisida biasa. Zat ini bisa dicampur dalam air untuk meracuni minuman dan makanan atau disemprotkan ke udara.

Orang yang teracuni seringkali tidak menyadari karena bentuknya berupa cairan bening, tak berbau, tak berwarna, tak berasa dan bisa menguap seperti air biasa. Zat ini sempat digunakan dalam pembantaian Halabja tahun 1988 di bawah perintah Saddam Hussein yang menewaskan sedikitnya 5.000 warga sipil Kurdi.

Sarin juga sempat digunakan dalam serangan teroris di kereta bawah tanah Tokyo pada tahun 1995 yang menewaskan 13 orang. Karena sifatnya yang mudah menguap, sarin umumnya dicampur sebelum digunakan dan disimpan dalam bentuk cair. Karena sifatnya sangat korosif, sarin harus disimpan dalam wadah khusus.

Dalam waktu beberapa detik setelah terkena gas sarin, korban mulai mengalami sakit mata, lemas, muntah, diare dan detak jantung tidak beraturan. Pakaian yang terkena akan terus melepaskan uap beracun selama 30 menit sehingga menyebabkan makin banyak orang yang terpapar saat mendekati korban.

Korban yang sudah terkena cairan sarin dapat menunjukkan gejala kapan saja, mulai dari hitungan menit sampai 18 jam setelah mengkonsumsi. Jika terpapar dalam jumlah besar, baik dalam bentuk cair maupun gas, gejalanya akan lebih parah dan menyakitkan seperti kejang-kejang, lumpuh, tak bisa bernapas sampai kematian.

Sarin menyerang sistem saraf dan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengendalikan fungsi otot dan kelenjar. Akibatnya, terjadi overstimulasi metabolisme seperti otot terus berkedut, kelelahan dan bernapas dengan kecepatan yang tidak terkendali. Pada akhirnya, semua fungsi tubuh pun hilang.

Kebanyakan korban dapat sembuh jika hanya terkena sarin dalam dosis kecil. Apabila terpapar di dalam ruangan, segera keluar, lepas pakaian yang terkontaminasi dan cuci bagian tubuh yang terkena dengan air sabun untuk mengurangi risiko yang lebih parah.

Jika korban yang terkena segera ditangani dengan penangkal racun di rumah sakit, ia masih mungkin bertahan hidup tanpa gangguan saraf selama 1 – 2 minggu. Namun jika terpapar dalam jumlah banyak dan tidak diobati, risiko kematian akan meningkat.

Hormon Ini Bisa Kuatkan Ikatan Ayah dan Anak

Karena jarang di rumah untuk bekerja, ayah seringkali tak memiliki ikatan yang kuat dengan anak-anaknya. Padahal anak juga memerlukan perhatian dan kasih sayang dari sang ayah. Untuk itu, tim peneliti dari Israel pun mengungkapkan bahwa pemberian hormon oksitosin pada orang tua, terutama ayah dapat meningkatkan keterikatannya dengan si anak.

Oksitosin memang telah lama dikenal memainkan peranan penting dalam membentuk ikatan kasih sayang, baik pada pasangan maupun pada orangtua dengan anaknya. Beberapa studi lain juga telah menunjukkan bahwa pemberian oksitosin secara intranasal (pemberian obat lewat hidung) dapat meningkatkan kepercayaan, empati dan resiprositas sosial pada seseorang.

Dalam studi ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Ruth Feldman dari Bar-Ilan University, Israel mengamati apakah pemberian oksitosin pada orangtua dapat meningkatkan pembentukan perilaku dan fisiologis yang mendukung keterikatan sosial mereka dengan bayinya sekaligus memperbaiki gaya asuh (parenting) mereka.

Peneliti juga mengamati apakah efek oksitosin terhadap perilaku orangtua akan mempengaruhi proses terbentuknya perilaku dan kondisi fisiologis pada si bayi.

Untuk studi ini, peneliti mengamati kondisi 35 ayah yang memiliki bayi berusia 5 bulan setelah diberi oksitosin dan pasca pemakaian plasebo. Keduanya diberikan dalam bentuk semprotan hidung kepada para ayah di sebuah ruangan tertutup sedangkan bayi mereka diletakkan di ruangan lain.

Tak lupa kadar oksitosin dari air liur ayah dan anak ini pun diukur sebelum dan beberapa kali setelah pemberian hormon. 40 Menit kemudian, ayah dan bayi ini dipertemukan kembali dan diminta berinteraksi dengan bermain bersama sebagai ‘kode mikro’ untuk menentukan perilaku sosial ayah dan anak tersebut.

“Ternyata setelah diberi oksitosin, kadar oksitosin di dalam air liur sang ayah meningkat drastis, lebih dari 10 kali lipat, tapi kondisi yang sama juga ditemukan pada kadar oksitosin si bayi. Perilaku parenting pada sang ayah, terutama sentuhan dan resiprositas sosialnya pun meningkat tapi perilaku sosial si bayi, termasuk tatapan sosial dan perilaku eksplorasinya juga meningkat,” terang Fieldman seperti dikutip dari zeenews, Kamis (13/12/2012).

Peneliti juga menemukan bahwa sinus aritmia pernafasan (respiratory sinus arrhythmia/RSA) atau indikator yang menunjukkan kesiapan otonomi seseorang untuk terlibat dalam suatu keterikatan sosial pun terlihat meninggi, baik pada orang tua maupun si anak.

Menanggapi studi yang dipublikasikan dalam jurnal Biological Psychiatry ini, editor jurnal tersebut, Dr. John Krystal menyimpulkan bahwa temuan ini berpotensi dijadikan terapi untuk mengobati anak-anak yang berisiko mengalami kesulitan bersosialisasi seperti bayi prematur, anak pengidap autisme atau anak yang ibunya depresi tanpa perlu memberikan obat-obatan tertentu pada bayi yang masih begitu muda.